Lihatlah dia! Seorang putri suku Ardagia. Wajahnya laksana lukisan prajurit perang, dan matanya menyatakan keberanian yang tak patah dihadapan besi baja. Lihatlah! Dia menunggang kuda tak ubahnya laki-laki Gunung Gahora.
Dalam darahnya mengalir semangat yang menggelegak. Ia dapat bertahan di tengah gurun penderitaan. Ia mampu menghancurkan musuhnya dengan memasukan rasa gentar.
Debu-debu, deru angin nan dingin, juga matahari yang membakar adalah saksi sebuah kekuatan jiwa; jiwa yang terpimpin tujuan hidup. Seumpama elang, ia menaklukan keluasan langit dan mengepakan sayap kebebasan.
Air matanya yang menitik adalah air mata kerinduan.
Ia menghunus pedang sementara tubuhnya mengikuti irama rentak kuda. Dan anginpun mengibarkan zirah kebesaran yang hanya pantas dipakai oleh jiwa-jiwa besar. Aku melihat sorot mata yang tidak takut pada kematian.
Daripadanya lahirlah kehidupan yang membebaskan. Bukan hidup yang terbelenggu dan terkungkung. Maka adalah lebih baik hidup sehari dalam keberanian, daripada seribu tahun dalam kepengecutan!
Dia perempuan yang menanggung kerinduan. Namun hatinya dipenuhi api kemarahan. Dia bertanya apakah zaman tidak mau melahirkan seorang laki-lakipun yang berani mengkhotbahkan kebenaran?
Apakah tidak ada laki-laki yang sanggup menanggung kepahitan demi kebenaran sejati? Ia tidak melihat kecuali para pengkhotbah yang menukar kata-kata bijak dengan setumpuk emas.
Dia hanya melihat laki-laki yang membiarkan diri mereka membusuk dari waktu ke waktu, karena mereka tidak bisa hidup sebagai dirinya sendiri. Mereka adalah laki-laki yang merelakan diri sebagai budak kehidupan. Bukan laki-laki yang mengendalikan kehidupan.
Mereka adalah laki-laki yang tidak memiliki rasa malu mengeluhkan perihal kehidupannya. Padahal kehidupan adalah anugerah yang mesti diterima dengan kesyukuran, yang badainya harus dihadapi dengan gagah berani, yang gelombangnya harus dipecahkan dengan kekuatan jiwa, dan amuk penderitaannya diluluhlantakan dengan keihklasan.
Maka perempuan itu marah kepada mereka yang memiliki kehebatan, namun membiarkannya tenggelam di sudut ketakutan. Ia marah kepada para lelaki pahlawan yang membatalkan keagungannya sendiri dengan masuk dalam kubangan kepengecutan. Maka ketika air mata menitik darinya, itu adalah air mata penuh keagungan.
Bersama kudanya, ia telah melanglang buana. Tetapi di manakah laki-laki agung yang dia cari? yang berani mendaki tebing-tebing curam, menggagahi gunung-gunung berbatu, membelah udara beku, yang suaranya membisik pada rimba-rimba kehidupan.
Laki-laki yang masuk ke kancah pertempuran kehidupan hingga kudanya terengah-engah; yang menabuh genderang perang pada keburukan; yang menebaskan pedangnya hingga patah menjadi dua.
Laki-laki yang merentangkan sayapnya demi meneduhkan hati yang gundah. Mengepakannya sehingga bangunlah bocah-bocah kecil dari lamunan panjangnya; laki-laki yang memimpin kaumnya menuju kegagahan dan mengarahkan perempuan pada keanggunan.
Maka ketika matahari hampir surut di ufuk Barat, perempuan itu telah tiba di halaman rumahnya. Api kemarahannya kini bercampur kekecewaan: yang dicari tak ditemukan, yang diharapkan tak kunjung datang.
Namun di tengah lamunannya, suatu lintasan terdetik dalam hatinya ketika melihat dua putri dan putra kecilnya yang lucu. Lalu iapun berkata pada dirinya sendiri, "Aku adalah perempuan agung yang membentuk perempuan dan laki-laki agung!"
