![]() |
| Rindu |
DI CELAH Gunung Gamora nan agung, aku melihatnya menukik searah air terjun. Gemuruh air mengiringi pemandangan menakjubkan itu. Ia meluncur laksana anah panah yang membelah udara. Ia terus meluncur. Cepat. Dan bertambah cepat. Matanya terkatup rapat sebab mata perasaannya telah mengambil alih penglihatannya.
Dan ketika jarak antara dirinya dan permukaan arungan hanya beberapa tombak saja, kedua sayapnya mengepak indah. Udara yang dipenuhi butiran air melontarkan kesejukan ke sekujur tubuhnya.
Dalam-dalam ia menghirupnya seolah mengisi ruang hati yang dilanda rindu.
Di antara suara geranjas arungan dan tiupan seruling bambu, aku mendengar sebuah nyanyian rindu – dikumandangkan dari jiwa yang gagah berani.
Oh, langit manakah yang sanggup menampung pedihnya kerinduan? Air mataku menggenang, tangisku tak lagi terdengar, dan apakah hati ini harus terendam air kerinduan!? Telah kubelah benteng dingin Utara, telah kujelajah rimba-rimba yang tumbuh di masa lampau, dan kuturuti nasehat bijak bestari dari samudera timur. Namun rindu hati tak pernah meluntur.
Ingin kukatakan! Kakiku penuh gores luka, sayap-sayapku terkadang kaku dalam kepaknya, dan mataku rabun diterjang pengembaraan. Di ujung negeri, aku menjelajahi rimbanya. Dan kujuga negeri ini dari musuh-musuh yang mengusik: kerja-kerjaku dalam sepi, tak satupun mata yang melihatnya, tak ada satupun yang mengetahui penderitaanku, tak ada yang mengetahui pengorbananku, maka kupinta sebuah hati yang terbuat dari serat keikhlasan.
Aku terluka dan hanya luka itu yang menemaniku. Aku menangis pilu, dan tak kawan meskipun mengering air mataku. Satu-satunya kawan adalah kesendirian. Dari sinilah pohon kerinduan itu tumbuh. Maka aku merindukanmu, Ibu. Sesungguhnya satu kata yang kudengar darimu cukup untuk melenyapkan panasnya dadaku dan menyirami hati dengan embun kesejukan. Semua penderitaan itu tak ada artinya dibandingkan kebahagiaan menatap wajahmu.
Aku tahu Pohon Kejayaan ini besar karena simbah darah para pejuang, juga air mata tulus para pendoa, dan disuburkan keringat para prajuritnya. Tetapi hari ini aku ingin pulang kepadamu: mereguk ketenangan bersamamu, Ibu.
